KEMBARATIMUR.COM, SAMARINDA — Kalimantan Timur mulai memasuki fase yang mengkhawatirkan. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) muncul di berbagai penjuru wilayah provinsi ini dengan frekuensi yang meningkat tajam.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Timur mencatat 196 kejadian karhutla sepanjang Januari hingga 10 Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, 71 kejadian berlangsung hanya dalam sepuluh hari pertama Agustus.
Artinya, lebih dari sepertiga kejadian karhutla yang tercatat sepanjang tahun terjadi hanya dalam kurun waktu sepuluh hari. Lonjakan ini menjadi sinyal bahwa musim kering mulai memberikan tekanan serius terhadap wilayah rawan kebakaran.
Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan, mengatakan peningkatan kasus tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah. Penanganan karhutla, menurut dia, membutuhkan kerja bersama lintas sektor.
“Memang ada peningkatan yang cukup signifikan angka karhutla di Kaltim,” ujar Buyung seusai Apel Kesiapsiagaan Tanggap Darurat Bencana Karhutla di Balikpapan, Selasa (11/8/2026). seperti dikitip dari Metronews
Sejumlah wilayah kini masuk dalam daftar yang perlu mendapat perhatian lebih. Paser, Penajam Paser Utara, Kutai Barat, dan Kutai Timur disebut sebagai daerah dengan kasus karhutla yang relatif tinggi. Berau juga mulai menunjukkan peningkatan titik api meski sejumlah wilayahnya masih mengalami hujan.
Api Muncul dari Banyak Penjuru
Lonjakan tersebut memperlihatkan bahwa karhutla bukan lagi persoalan satu atau dua daerah. Titik kebakaran muncul di sejumlah kabupaten dengan karakter wilayah dan aktivitas masyarakat yang berbeda.
Di Kutai Barat, misalnya, kebakaran dilaporkan terjadi hampir setiap hari sejak awal Agustus. Salah satu pemicu yang disebut adalah aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar.
Sementara di Berau, BPBD setempat mencatat ratusan hotspot terdeteksi sejak awal Agustus, dengan Kecamatan Pulau Derawan menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian.
Kondisi ini membuat upaya pencegahan menjadi sama pentingnya dengan pemadaman. Api yang terlambat terdeteksi berpotensi meluas, terutama ketika kondisi lahan kering dan angin membantu penyebaran api.
Belum Ada Status Tanggap Darurat
Meski jumlah kejadian meningkat, belum ada pemerintah kabupaten maupun kota di Kaltim yang menetapkan status tanggap darurat karhutla. Daerah masih berada dalam status siaga.
Namun, peningkatan kejadian dalam waktu singkat menjadi peringatan bahwa situasi dapat berubah apabila kebakaran terus bertambah dan meluas.
Kepolisian Daerah Kalimantan Timur juga meningkatkan kesiapsiagaan. Sekitar sepertiga dari total hampir 6.000 personel Polda Kaltim disiagakan untuk menghadapi potensi karhutla selama musim kemarau.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa ancaman karhutla mulai dipandang sebagai persoalan yang membutuhkan pengerahan sumber daya lintas lembaga.
Kutim Masuk Daftar Wilayah Rawan
Kutai Timur menjadi salah satu daerah yang patut mendapat perhatian. Wilayahnya yang luas, ditambah keberadaan kawasan hutan, perkebunan, permukiman dan aktivitas pembukaan lahan, membuat potensi kebakaran perlu diantisipasi sejak dini.
Dengan Kutim masuk dalam kelompok wilayah yang disebut memiliki kasus karhutla tinggi, pemerintah daerah perlu memastikan sistem deteksi dini, patroli dan respons pemadaman berjalan efektif.
Pertanyaan berikutnya bukan sekadar berapa banyak api yang berhasil dipadamkan.
Tetapi, berapa banyak api yang berhasil dicegah sebelum membesar?
Sebab, ketika 71 kejadian bisa muncul hanya dalam sepuluh hari, persoalannya bukan lagi sekadar tentang kebakaran yang sudah terjadi. Ini tentang seberapa siap Kaltim menghadapi kebakaran berikutnya.
Dan musim kemarau belum selesai.
Editor/Redaktur: Imran R. Sahara
Sumber: Diolah dan dirangkum dari berbagai sumber.




