ACEH BARATLintas Daerah

Buah Rumbia Menghilang dari Aceh Barat, Rasa Rujak Meulaboh Tak Lagi Sama

MEULABOH, KembaraTimur.com — Ada cita rasa yang perlahan menghilang dari Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat. Buah rumbia yang dahulu mudah dijumpai dan menjadi bagian penting dalam racikan rujak kini semakin sulit ditemukan.

Bukan hanya soal buah yang tak lagi tersedia di pasaran. Bagi sejumlah penjual rujak, hilangnya rumbia juga berarti hilangnya salah satu rasa khas yang selama bertahun-tahun melekat pada kuliner tradisional tersebut.

Kondisi itu disebut telah berlangsung sekitar 15 tahun. Tanaman rumbia yang sebelumnya dikenal menghasilkan buah dalam jumlah cukup besar kini tidak lagi berbuah seperti dahulu.

Padahal, Aceh Barat pernah dikenal sebagai salah satu daerah penghasil buah rumbia. Hasilnya tidak hanya dipasarkan di wilayah setempat, tetapi juga dibawa pedagang hingga ke Banda Aceh.

Kini keadaan berbalik. Buah yang dahulu menjadi komoditas perdagangan tersebut semakin jarang ditemukan. Para penjual rujak pun harus mencari bahan pengganti agar tetap bisa memenuhi kebutuhan pembeli.

Evi, salah seorang penjual rujak di Meulaboh, mengatakan ketiadaan buah rumbia membuat dirinya harus menggunakan buah lain sebagai campuran.

“Selama buah rumbia tidak ada lagi, kalau membuat rujak kami terpaksa mencampurnya dengan buah sawo dan buah-buahan lainnya. Rasanya tidak sama seperti dulu. Dulu lebih sedap, sekarang cita rasanya sudah hilang,” kata Evi, salah seorang penjual rujak di Meulaboh, Selasa dini hari, 26 Agustus 2026.

Menurut Evi, rumbia memiliki karakter rasa yang sulit digantikan oleh buah lain. Karena itu, meski bahan pengganti tetap digunakan, rasa rujak yang dihasilkan tidak sepenuhnya menyerupai racikan pada masa lalu.

Di sisi lain, masyarakat di sejumlah kawasan Aceh Barat masih memanfaatkan tanaman rumbia untuk keperluan lain. Salah satunya adalah batang rumbia yang telah tumbuh besar dan tinggi.

Adi, warga Dusun Mon Kulu, Gampong Ladang, Kecamatan Sama Tiga, Aceh Barat, menyebut batang rumbia yang sudah tinggi dikenal masyarakat sebagai batang sagu.

Batang tersebut masih memiliki nilai ekonomi bagi warga. Selain dapat diolah menjadi bahan makanan tambahan, sagu juga dimanfaatkan sebagai pakan untuk ternak, termasuk ayam dan itik.

“Kalau satu batang sagu, kami sanggup membeli sekitar Rp70 ribu,” ujar Adi.

Batang sagu yang dibeli kemudian dipotong-potong dengan ukuran sekitar satu meter. Setelah itu, potongan tersebut kembali dijual kepada masyarakat yang membutuhkan pakan ayam dan itik di Kecamatan Sama Tiga.

“Kami hanya mencari keuntungan sedikit dari penjualan ini,” katanya.

Bagi masyarakat seperti Adi, keberadaan tanaman rumbia bukan semata persoalan hasil hutan yang bisa dimanfaatkan. Tanaman itu juga berkaitan dengan penghidupan warga dan tradisi yang telah berlangsung lama.

Sementara bagi penjual rujak di Meulaboh, menghilangnya buah rumbia meninggalkan persoalan yang berbeda: resep masih ada, tetapi rasa yang dulu menjadi ciri khas perlahan sulit ditemukan.

Jika kondisi tersebut terus berlangsung, rumbia di Aceh Barat bukan tidak mungkin hanya tersisa dalam ingatan masyarakat, sebagai tanaman yang pernah menghasilkan buah, sekaligus bagian dari cita rasa rujak yang kini semakin sulit dikembalikan.

M. Jamil

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button