Kaltim

Kapendam IV/Diponegoro Berganti, Jon Young Saragi Isi Pos Strategis Penerangan

KEMBARA TIMUR, KALTIM – Suasana di lingkungan Kodam IV/Diponegoro, Rabu, 22 April 2026, menandai pergantian penting di lini penerangan. Letkol Inf Jon Young Saragi resmi mengemban tugas sebagai Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) IV/Diponegoro, menggantikan Letkol Inf Andy Soelistyo K.P.

Serah terima jabatan itu dipimpin Pangdam IV/Diponegoro, Mayjen TNI Achiruddin Darojat. Prosesi berlangsung dengan rangkaian militer yang khidmat—mulai dari pengambilan sumpah, penandatanganan fakta integritas, hingga penyematan tanda jabatan sebagai simbol legitimasi kepemimpinan baru.

Bagi Saragi, jabatan ini bukan wilayah yang sepenuhnya baru. Ia sebelumnya menjabat Wakil Asisten Intelijen Kodam IV/Diponegoro, serta pernah memimpin Kodim 0718/Pati. Rekam jejak itu menjadi pijakan awal untuk menakhodai bidang penerangan yang kini semakin strategis, terutama di tengah arus informasi digital yang kian cepat dan tak jarang tak terverifikasi.

Sementara itu, Andy Soelistyo meninggalkan posisinya untuk melanjutkan pendidikan di Sesko TNI, Bandung—sebuah jalur yang lazim ditempuh perwira menengah dalam menapaki jenjang karier berikutnya.

Dalam amanatnya, Achiruddin menekankan bahwa rotasi jabatan bukan sekadar rutinitas organisasi, melainkan bagian dari upaya menjaga ritme dan daya adaptasi institusi. “Pergantian pejabat harus mampu meningkatkan kinerja satuan dan etos kerja personel,” ujarnya.

Di sisi lain, Saragi memandang jabatan barunya sebagai amanah yang menuntut keseimbangan antara disiplin militer dan kecakapan komunikasi publik. Ia menyatakan akan memperkuat fungsi penerangan sebagai penghubung antara TNI dan masyarakat.

“Informasi yang disampaikan harus akurat, transparan, dan mampu membangun kepercayaan publik,” kata Saragi.

Di tengah lanskap informasi yang terus berubah, posisi penerangan militer tak lagi sekadar menyampaikan kabar, tetapi juga menjaga kredibilitas institusi di ruang publik yang semakin terbuka.

Kalau ingin, saya bisa buatkan versi lebih “tajam” lagi dengan sudut kritis khas Tempo (lebih dalam analisis peran penerangan TNI di era digital).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button