AdvertorialPemkab Kutim

Desa Sangatta Utara Hidupkan Lagi Pelatihan UMKM Berbasis Kebutuhan Warga

KEMBARA TIMUR – Selama bertahun-tahun, program pemberdayaan ekonomi di tingkat RT di Sangatta Utara kerap berhenti pada kegiatan seremonial. Anggaran mengalir, namun keterampilan warga tak banyak berubah. Kondisi itu mendorong Pemerintah Desa Sangatta Utara mencoba pendekatan baru: menghidupkan kembali pelatihan UMKM berbasis kebutuhan warga, dengan melibatkan langsung tiga RT sebagai penggeraknya.

Program yang mulai berjalan sejak Senin lalu itu kini memasuki hari kelima. Kegiatan dipayungi oleh Tim Penggerak Kegiatan (TPK) dan Penyuluh Desa, sementara pelatihan berlangsung di beberapa titik, dari lokasi yang disiapkan desa hingga rumah ketua RT. Setiap ruang yang tersedia berubah menjadi kelas kecil untuk warga yang ingin belajar keterampilan produktif.

Sekretaris Desa Sangatta Utara, Osler Menalu, mengatakan pelatihan ini merupakan bagian dari alokasi dana RT sebesar Rp10 juta per tahun yang memang disediakan khusus untuk kegiatan UMKM. Anggaran tersebut merupakan turunan dari paket Rp50 juta per RT, yang sebagian besar digunakan untuk infrastruktur, sementara sisanya dialokasikan untuk pemberdayaan ekonomi.

“Pesertanya warga dari tiga RT, masing-masing 15 orang. Jadi totalnya 45 peserta,” ujar Osler, Jumat, 28 November 2025.

Pelatihan kali ini menggandeng Lugna sebagai pihak pelaksana dan penyedia materi. Keputusan tersebut, kata Osler, bertujuan memastikan pelatihan tidak hanya formalitas, tetapi memberi pengalaman praktis yang bisa segera dipakai warga.

“Dana UMKM yang disediakan RT digunakan untuk membayar Lugna. Desa lewat TPK hanya memfasilitasi agar pelatihan berjalan sesuai kebutuhan warga,” tuturnya.

Setiap RT diberi keleluasaan memilih jenis pelatihan sesuai minat warganya. Karena itu, ragam kegiatan pun terbentang luas: dari kelas kuliner seperti pembuatan amplang dan kue kering, pelatihan menjahit, dasar pertukangan, hingga kerajinan berbahan daur ulang.

“Tiap RT beda-beda permintaannya,” kata Osler. “Ada yang memilih kuliner, ada yang memilih kerajinan. Prinsipnya, warga yang menentukan.”

Meski demikian, Desa tetap memegang kendali mutu. Narasumber tambahan tetap disiapkan dari Desa untuk memastikan materi yang diberikan sejalan dengan kebutuhan pasar dan standar pelatihan.

“RT yang menyediakan dana, tapi koordinasinya tetap di Desa. Kita ingin kualitasnya tidak lepas begitu saja,” ujarnya.

Pelatihan masih akan berlangsung hingga Selasa mendatang. Pemerintah Desa berharap kegiatan ini menjadi awal dari ekosistem pemberdayaan ekonomi yang lebih nyata, bukan sekadar menghabiskan anggaran, tetapi membekali warga dengan keterampilan yang dapat menambah pendapatan mereka.(adv/Parid)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button