KEMBARATIMUR.COM – Kalau seseorang membawa koper berisi 22 pasang kaus kaki, petugas bandara mungkin akan berpikir pemiliknya sedang bersiap untuk perjalanan panjang.
Namun di Bandara Haneda, Tokyo, Jepang, dugaan itu berubah total.
Kaus kaki yang seharusnya menemani kaki justru menjadi tempat persembunyian sekitar 200 ekor kadal.
Petugas Bea Cukai Jepang menemukan ratusan reptil tersebut di dalam koper seorang pria asal Meksiko yang tiba di Jepang dari Korea Selatan. Bukan satu atau dua ekor, melainkan sekitar 200 ekor.
Dengan kata lain, koper tersebut bukan lagi sekadar barang bawaan. Ia sudah seperti kos-kosan reptil berjalan.
Pemilik koper, Daniel Isaac Velasco Baltazar, 23 tahun, kemudian ditangkap Kepolisian Metropolitan Tokyo pada 8 Agustus 2026. Ia diduga membawa reptil ke Jepang tanpa izin dan deklarasi yang diwajibkan.
Menurut laporan Jiji Press yang dikutip Nippon.com, sekitar 200 kadal ditemukan tersembunyi dalam 22 pasang kaus kaki.
Satu ekor kadal ditemukan sudah mati.
Modus ini memang terdengar seperti adegan film komedi. Bedanya, kali ini bukan properti film dan bukan pula cerita fiksi. Hewan-hewan tersebut benar-benar ditemukan di dalam koper.
Kalau biasanya orang menghitung isi koper berdasarkan jumlah pakaian, petugas Jepang kali ini mungkin harus menghitungnya berdasarkan jumlah kaki.
Dan jumlahnya bukan dua.
Penyelundupan itu ternyata bukan ditemukan secara kebetulan semata.
Polisi Tokyo sebelumnya menerima informasi anonim mengenai dugaan rencana seorang warga negara Meksiko membawa kadal ke Jepang menjelang sebuah pameran dan penjualan reptil.
Informasi tersebut membuat aparat memberi perhatian terhadap kedatangan Baltazar.
Ketika pria itu tiba di Bandara Haneda pada 8 Agustus setelah melakukan perjalanan dari Korea Selatan, bagasinya diperiksa.
Di situlah cerita kaus kaki dan kadal tersebut terbongkar.
Yang membuat perkara ini lebih serius, sebagian reptil yang ditemukan bukan sekadar hewan peliharaan biasa.
Dari sekitar 200 kadal tersebut, sembilan ekor diidentifikasi sebagai Mexican alligator lizard, spesies yang perdagangan internasionalnya berada dalam pengawasan CITES.
Polisi masih mengidentifikasi jenis kadal lainnya.
Jadi persoalannya bukan cuma:
“Kenapa bawa kadal sebanyak itu?”
Tetapi juga:
“Dari mana asalnya, hendak dijual kepada siapa, dan apakah ada jaringan perdagangan satwa di belakangnya?”
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kini menjadi bagian dari penyelidikan.
Kepada penyidik, Baltazar disebut mengaku membeli kadal-kadal tersebut di Meksiko dengan harga sekitar 560 hingga 750 yen per ekor.
Sementara sejumlah laporan menyebut Mexican alligator lizard dapat memiliki nilai jauh lebih tinggi di pasar Jepang, bahkan mencapai sekitar 100 ribu yen per ekor.
Perbedaan harga tersebut menjadi salah satu alasan mengapa perdagangan reptil eksotis bisa sangat menggiurkan.
Bagi pedagang legal, tentu ada aturan dan izin yang harus dipenuhi.
Bagi penyelundup, logikanya mungkin sederhana: beli murah di negara asal, jual mahal di negara tujuan.
Masalahnya, kali ini logika tersebut kandas di pemeriksaan bagasi.
Bayangkan petugas membuka koper dengan harapan menemukan pakaian, sepatu atau oleh-oleh.
Yang muncul justru reptil.
Jumlahnya sekitar 200 ekor.
Ditambah 22 pasang kaus kaki.
Satu hal yang jelas, koper tersebut membutuhkan pemeriksaan lebih serius daripada sekadar melihat apakah penumpang membawa terlalu banyak pakaian.
Petugas juga menemukan satu kadal dalam kondisi mati.
Kondisi tersebut menunjukkan risiko yang dihadapi satwa ketika dipindahkan secara tidak semestinya dalam perjalanan lintas negara.
Perdagangan reptil eksotis memiliki pasar tersendiri.
Kadal dengan bentuk, warna atau karakteristik tertentu dapat menjadi buruan kolektor dan penghobi reptil. Ketika permintaan tinggi sementara pasokan legal terbatas, harga dapat melonjak.
Di sinilah perdagangan ilegal mendapat ruang.
Hewan ditangkap, dipindahkan dan dijual tanpa melalui prosedur yang seharusnya.
Dampaknya bukan hanya pada hukum perdagangan satwa, tetapi juga pada konservasi dan kesejahteraan hewan.
Jika spesies yang diperdagangkan termasuk satwa yang dilindungi atau masuk daftar pengawasan internasional, persoalannya menjadi lebih serius lagi.
Penangkapan Baltazar bukan berarti kasus selesai.
Polisi Jepang masih menyelidiki asal-usul kadal, jenis masing-masing reptil, tujuan pengiriman serta kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat.
Sebab, membawa sekitar 200 kadal dalam satu koper tentu menimbulkan pertanyaan besar.
Apakah koper itu hanya milik seorang penggemar reptil yang kelewat serius?
Ataukah ada pasar yang sudah menunggu di Jepang?
Penyidik masih harus menjawabnya.
Kasus di Bandara Haneda ini memang terdengar lucu jika hanya dilihat dari modusnya.
Kaus kaki yang biasanya dipakai manusia justru digunakan untuk menyembunyikan kadal.
Tetapi di balik keanehan tersebut terdapat persoalan serius mengenai perdagangan satwa liar lintas negara.
Sekitar 200 reptil dipindahkan melalui perjalanan internasional. Satu di antaranya ditemukan mati. Sembilan lainnya diketahui merupakan spesies yang perdagangan internasionalnya diawasi.
Jadi, yang terjadi di Haneda bukan sekadar cerita tentang “kadal masuk kaus kaki”.
Ini adalah cerita tentang bagaimana tingginya nilai satwa eksotis dapat mendorong orang mencari cara-cara tak biasa untuk melewati pemeriksaan.
Sayangnya bagi sang pemilik koper, petugas Jepang ternyata tidak hanya pandai menemukan barang terlarang.
Mereka juga cukup jeli untuk menyadari bahwa kaus kaki tidak seharusnya bergerak sendiri dari dalam koper.
Dan kali ini, ratusan “penumpang gelap” itu gagal masuk ke Jepang.(*)
