Iran Dulu Sunni, Mengapa Kini Menjadi Pusat Syiah Dunia?

Jika melihat Iran hari ini, negara itu identik dengan Islam Syiah. Hampir seluruh sistem politik, keagamaan, hingga identitas nasionalnya dibangun di atas mazhab tersebut. Namun banyak orang tidak mengetahui bahwa selama berabad-abad Iran justru merupakan wilayah mayoritas Sunni. 

Perubahan besar itu tidak terjadi secara alami, melainkan melalui proses sejarah panjang yang dipengaruhi oleh kekuasaan politik, konflik geopolitik, dan strategi pembentukan identitas negara.

Islam masuk ke wilayah Persia pada abad ke-7 M setelah penaklukan wilayah tersebut oleh kekuatan Muslim. Kekaisaran Sasaniyah runtuh dan secara bertahap masyarakat Persia memeluk Islam.

Selama hampir sembilan abad berikutnya, wilayah Persia menjadi bagian dari dunia Islam Sunni. Tradisi keilmuan, madrasah, dan praktik keagamaan di sana mengikuti arus besar Ahlussunnah wal Jamaah yang juga dominan di dunia Islam saat itu.

Banyak tokoh ilmuwan Muslim dari wilayah Persia pada masa klasik—di bidang filsafat, ilmu pengetahuan, maupun fikih—lahir dalam lingkungan Sunni.

Perubahan besar terjadi pada awal abad ke-16 ketika muncul Dinasti Safawi. Pendiri dinasti ini, Syah Ismail I, berhasil menguasai Persia pada tahun 1501 dan kemudian menetapkan Islam Syiah sebagai agama resmi negara.

Langkah tersebut bukan hanya keputusan keagamaan, tetapi juga strategi politik. Safawi ingin membangun identitas negara yang berbeda dari kekuatan besar di sekitarnya, terutama Kesultanan Ottoman yang bermazhab Sunni.

Untuk memperkuat perubahan tersebut, pemerintah Safawi menjalankan kebijakan besar-besaran:

Dalam beberapa kasus, ulama Sunni terpaksa meninggalkan wilayah tersebut atau beradaptasi dengan sistem baru yang sedang dibangun.

Selama lebih dari dua abad kekuasaan Safawi (1501–1722), proses perubahan mazhab berlangsung secara bertahap. Pada akhir periode ini, sebagian besar masyarakat Persia telah mengikuti Syiah Dua Belas Imam (Itsna Asy’ariyah), yang kemudian menjadi mazhab dominan hingga sekarang.

Sejak saat itu Iran berkembang sebagai pusat intelektual, politik, dan spiritual Syiah di dunia Islam.

Warisan sejarah tersebut masih terlihat jelas saat ini. Sekitar 85–90 persen penduduk Iran menganut Islam Syiah, sementara komunitas Sunni menjadi minoritas.

Identitas ini juga mempengaruhi posisi Iran dalam geopolitik Timur Tengah, termasuk hubungan dengan negara-negara mayoritas Sunni di kawasan tersebut.

Perubahan Iran dari wilayah mayoritas Sunni menjadi pusat Syiah dunia bukan sekadar perubahan teologis, tetapi hasil dari kombinasi kekuasaan politik, strategi negara, dan proses sejarah panjang sejak abad ke-16.

Dengan kata lain, transformasi Iran adalah contoh bagaimana agama, politik, dan identitas nasional dapat saling mempengaruhi dalam perjalanan sejarah sebuah bangsa.

(Berbagai sumber)

Exit mobile version