KEMBARA TIMUR – Di Desa Sangatta Utara, perkembangan infrastruktur dasar tak bergerak serempak. Di pusat-pusat permukiman, listrik dan air bersih sudah mengalir ke mayoritas rumah warga. Namun, di wilayah yang menjulur ke arah pesisir Kenyamukan, sejumlah RT masih bergulat dengan kendala yang sama dari tahun ke tahun: akses jauh dan jaringan distribusi yang belum menjangkau.
Kepala Desa Sangatta Utara, Mulyanti, menyebut pemenuhan infrastruktur di wilayahnya sebenarnya sudah mencapai 85 persen. Dari total 66 RT, 64 di antaranya telah menikmati aliran listrik. Dua RT yang tersisa—RT 26 dan RT 34—berada di jalur panjang menuju Kenyamukan, kawasan yang terus berkembang tetapi belum sepenuhnya tersentuh fasilitas dasar.
“Kalau listrik, tinggal dua RT lagi yang belum terpasang,” kata Mulyanti di kantor desanya kemarin.
Kesenjangan serupa tampak pada layanan air bersih. Tiga RT masih belum tersambung jaringan air, yaitu RT 26, RT 34, dan RT 55. Lokasinya tersebar di koridor menuju pantai, area yang secara geografis memaksa pemerintah desa menghadapi biaya lebih besar dan akses teknis yang rumit.
“Air itu hampir semua ada. Ada tiga RT yang belum: 26, 34, dan 55. Karena aksesnya jauh, jalur ke pantai… arah Kenyamukan itu,” ujar Mulyanti.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah desa mencoba menutup ketimpangan itu dengan menyodorkan usulan ke pemerintah kabupaten dan instansi teknis, mulai soal pemasangan jaringan hingga pembukaan akses layanan. Semua kebutuhan dasar ini, kata Mulyanti, sudah masuk daftar permohonan resmi desa.
Upaya tersebut diharapkan membawa wilayah pesisir itu menyamai kawasan inti desa, yang infrastrukturnya sudah jauh lebih mapan. “Harapannya, tinggal sedikit lagi bisa selesai semuanya,” ucapnya.
Ketimpangan kecil ini, jika tak segera dituntaskan, berpotensi memicu kesenjangan sosial–ekonomi antarwilayah di dalam satu desa yang sama. Karena itu, Mulyanti berharap pemerintah kabupaten memberi prioritas penuh agar seluruh warga Sangatta Utara dapat menikmati layanan publik secara merata.(Adv/Q)
